Antara Virus Corona dan Virus Riba

Antara Virus Corona dan Virus Riba


Sahabat SRM, akhir tahun 2019 ini manusia digegerkan dengan kehadiran virus corona yang menyebar dengan begitu cepat ke berbagai wilayah dunia dengan korban jiwa semakin hari semakin meningkat. Berdasarkan sumber dari WHO hingga hari ini, Senin (23/03/2020) total sudah terdapat 294.110 kasus terkonfirmasi yang tersebar di 186 negara dengan 12.994 diantaranya meninggal. 

Virus Corona dan Dorongan Riba

Virus Corona berdampak sangat besar kepada seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya dibidang kesehatan karena mengakibatkan kematian, mewabahnya virus Corona juga berdampak kepada sektor ekonomi, sosial, politik, agama, pendidikan dan berbagai sektor lainnya. Hadirnya virus Corona juga sangat memukul perekonomian dalam masyarakat dan akibatnya muncul dorongan masyarakat untuk melakukan riba.

Tidak bisa dipungkiri lagi dampak virus Corona terhadap  perekonomian masyarakat sangat besar. Roda perekonomian seakan berhenti berputar. Bayangkan masyarakat dilarang beraktivitas dan bekerja entah sampai kapan. Dan sudah tentu hal ini berdampak kepada kondisi keuangan keluarga. Disinilah pasti muncul berbagai godaan virus riba untuk berhutang menutupi kekurangan keuangan. 

Berhutang riba dalam kondisi darurat hanya boleh ketika telah mengancam nyawanya, selagi masih belum mengancam nyawanya maka seorang yang beriman dilarang untuk berhutang riba. Berusahalah sekuat tenaga untuk mencari jalan solusi selain hutang riba, Hutang riba hanya akan membawa kepada musibah dan pasti akan diperangi dan dimusnahkan oleh Allah.

Riba bukan hanya soal hutang piutang berbunga. Riba juga termasuk didalamnya mereka yang menipu, bersumpah palsu dalam pasar, curang yang intinya merusak harga pasar yang bebas dan adil.

Abdullah bin Abu Aufa berkata : Seorang lelaki memaparkan beberapa makanan di pasar dan memberikan sumpah palsu bahawa beliau ditawarkan sedemikian (harga) untuk semua walaupun dia tidak ditawarkan dengan harga sedemikian. Kemudian turun ayat dari Allah SWT yang maksudnya : "Sesungguhnya orang yang menukar janji Allah dan sumpah mereka dengan harga yang sedikit, itulah orang yang tidak akan mendapat bahagian di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka di hari kiamat, dan tidak akan membersihkan mereka, dan bagi mereka azab yang tidak terperi sakitnya." (Surah Ali-Imran ayat 77). Ibn Abu Aufa menambah : Manusia (seperti yang digambarkan diatas) adalah pemakan riba yang berbahaya. (H.R Bukhari) 

Anas ibn Malik berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda (maksudnya) : "Menipu seorang mustarsal ( seseorang yang tidak tahu akan harga pasaran) adalah riba." (H.R Baihaqi)

"Najish (seorang yang bertindak sebagai agen untuk menaikkan harga pasar didalam lelang) adalah pengambil riba yang disumpah." (H.R Bukhari)

Banyak orang yang memanfaatkan wabah Corona untuk menumpuk kekayaan dengan cara bathil. Jelas ini termasuk riba dan perbuatan telarang. Masyarakat yang sedang dalam kesusahan seyogianya dibantu bukan justru dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan.

Virus Corona telah memunculkan dorongan masyarakat untuk melakukan riba. Hanya mereka yang memilliki keyakinan yang kuat yang dapat terhindar dari riba akibat virus Corona.

Virus Corona dan Runtuhnya Sistem Uang Kertas


Akibat virus Corona banyak pihak yang menyerukan untuk meninggalkan uang kertas dan berganti ke uang elektronik. Uang kertas dianggap sebagai menia untuk penularan virus. Banyak Bank yang sebelum mengedarkan uang kertas melakukan sterilisasi agar aman ketika diedarkan. 

Seruan-seruan ini bukan seruan yang bisa dipandang sebelah mata. Seruan ini menjadi pertanda akan berakhirnya sistem uang kertas yang akan berganti ke uang elektronik. Jadi bersiaplah memasuki fase paling mengerikan dalam sejarah peradaban manusia dimana nantinya hanya akan ada uang elektronik yang sangat mudah untuk dimanipulasi, ditambah, dikurangi, dihapus dan digandakan.

Uang dalam Islam hanyalah uang intriksik yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan harta, baik berupa uang jenis komoditi logam mulia atau komoditi kebutuhan pokok. Inilah pentingnya memahami pelajaran dibalik hadist komoditi dan hewan ternak.

Uang kertas atau uang elektronik dan segala bentuk uang yang tidak memiliki nilai intrinsik termasuk kedalam inti riba karena disanalah sumber riba dan menjadi sumber penindasan dan pinipuan. Uang yang demikian akan terus mengalami inflasi dan pada satu titik tertentu akan mengalami kehancuran dan tidak akan memiliki nilai. Sudah semakin dekatkah titik itu?

Rasulullah SAW jauh jauh hari telah memerintahkan untuk menggunakan kembali uang yang memiliki nilai intrinsik atau menyimpan hartanya dalam bentuk real seperti komoditi, tanah atau hewan ternak.

"Waktu pastinya akan datang kepada umat manusia ketika hanya dinar dan dirham saja yang akan digunakan." (H.R Ahmad)

"Harta terbaik yang dapat dimiliki (di akhir zaman) adalah domba yang akan dibawanya ke kaki bukit dan dikawasan dimana hujan turun, melarikan diri dengan agamanya dari sengketa umum." (H.R Bukhari)

"Kegemparan akan muncul setelah munculnya keributan yang lain, dan kemudian akan ada periode kegemparan yang mana seorang yang duduk lebih baik dari seorang yang berjalan, dan seorang yang berjalan lebih baik dari seorang yang berlari kepadanya. Bila itu terjadi dia yang memiliki unta patut tetap dengan unta-untanya, dan dia yang memiliki domba patut tetap dengan biri-birinya, dan dia yang memiliki tanah harus tetap dengan tanahnya..." (H.R Muslim)

Virus Corona dan Virus Wahn

Virus Corona bukan virus paling berbahaya. Ada virus yang jauh lebih berbahaya yang menjangkit banyak manusia sebelum datangnya virus Corona, yaitu virus Wahn. Rasulullah SAW memprediksi bahwa kerusahakn dan kehancuran umat Islam beserta peradabannya dikarenakan terkena virus Wahn. 

Wahn adalah penyakit hubbud dunya wa karohiyatul maut (cinta dunia dan takut mati). Virus Wahn menjadikan orang hanya hidup untuk dunia, semua hal akan dilakukannya untuk dunia dan jika ada dunia. Virus Wahn akan mematika moralitas dan spiritualitas orang. Orang yang telah kronis terkena virus Wahn maka ia akan hidup dengan kekosongan seperti buih dilautan.

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5278)

Hadirnya virus Corona semakin membuka mata hati kita untuk menyadari bahwa mayoritas masyarakat sekarang sudah banyak yang terkena virus Wahn. Bahkan ditengah kesusahan orang saling menindas dan menumpuk kekayaan. Orang berlomba-lomba menawarkan pinjaman riba bahkan adan yang sampai melakukan penipuan peralatan seperti masker dll. Banyak yang menggambil kesempatan virus Corona ini untuk mengguntungkan dirinya dengan menggunakan prinsip "mumpung". Semua dihitung untung ruginya berdasarkan materi dan dunia.

Ibadah-ibadah yang dilaksankan hanya melepaskan beban kewajiban dan kegiatan rutinitas ritual yang sama sekali tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka mudah diombang-ambingkan ibarat buih yang terapung di atas lautan. Saking cintanya kepada dunia bahkan sampai urusan akhirat diraih demi untuk menggapai cita-cita dunia. 

Dunia ini hanyalah sarana menuju akhirat. Jangan sampai hidup diperbudak dunia sehingga diri sampai tega memperbudak dan menindas orang lain. Bantulah orang yang dalam kesusahan ditengan wabah Corona. Tidak ada istilah bantuan berbunga, itu hanyalah tipuan semata, jika ikhlas membantu maka berikan hutang tanpa bunga atau disedekahkan. Jangan juga kita termasuk mereka yang memanfaatkan keuntungan ditengah Corona baik dengan menipu, menimbun barang, korupsi dll.

Ketakukan kematian yang sangat akibat virus Corona juga menunjukan bahwa dunia ini sudah begitu kuat mencengkram manusia sehingga semakin susah untuk ditinggalkan. Saking cinta kepada dunia sehingga khawatir jika kematian mendatanginya. Seharusnya dengan kejadian Corona ini kita membuka mata untuk senantiasa mengingat kematian dengan terus menyiapkan bekal amal.

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259)

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229)

Virus Corona dalam Pandangan Islam

Saat semakin merebaknya virus Corona, ada dua pandangan dalam menyikap menyebaran Corona. Pandangan pertama terlalu berlebihan dalam menyikapinya sehingga menimbulkan kepanikan. Pandangan kedua terlalu meremehkan karena menganggap bahwa segala sesuatu sudah takdir, kematian takdir bahkan siapa orang yang bakal terkena juga takdir. Lantas bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini.?

Dalam Islam ikhtiar dan tawakal adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Tawakal harus mengiringi setiap ikhtiar. Hanya bertawakal dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah dengan menggap bahwa kematian mutlak kekuasaan Allah tanpa melakukan ikhtiar adalah salah. Karena Allah tidak akan menggubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak bisa merubahnya.

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar – Ra’d 13 : 11)

Namun demikian, hanya berikhtiar tanpa tawakal juga salah karena tidak akan ada seorang yang menjadi sakit terkena virus Corona selain daripada izin Allah. 

"Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (rengkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan).' Lalu seorang Arab Badui berkata; "Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Siapakah yang menulari yang pertama'." (HR. al-Bukhari).

Jadi tawakalah dalam setiap ikhtiar. Dalam setiap ikhtiar semua dipasrahkan kepada Allah. Bagaimana berikhtiar yang dicontohkan saat ada suatu wabah atau virus?

Saat virus corona datang dan menyebar dengan begitu cepat ke seluruh penjuru dunia semua orang berikhtiar melakukan pencegahan. Ternyata model pencegahan yang dilakukan merupakan model yang selama ini sudah diajarkan dalam Islam.  Berikut beberapa ikhtiar dalam mencegah Corona:

1. Menjaga higienitas makanan

"Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup" (HR. Muslim).

2. Mengisolasi area wabah 

"Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut" (HR. al-Bukhari). 

"Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat" (HR. al-Bukhari). 

3. Membiasakan mencuci tangan

"Berkah pada makanan ada di dalam wudhu sebelum dan setelah menyantap hidangan." (HR Tirmidzi).

"Ketika kamu bangun tidur, dia seharusnya cuci tangan tiga kali sebelum beraktivitas karena dia tidak tahu kondisi tangannya saat malam hari." (HR Muslim).

4. Menjaga kebersihan lingkungan

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi” (HR. At Tirmidzi)

5. Beradab ketika bersin

“Sesungguhnya Nabi Saw ketika bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Al-Tirmidzi)

“Jika salah seorang di antara kalian bersendawa atau bersin, maka jangan mengeraskan suara dengan keduanya. Karena setan senang terhadap salah seorang dari kalian yang mengeraskan suara saat bersin dan bersendawa.” (HR. Al-Dailami).

“Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, ‘Alhamdulillah’ dan saudaranya atau temannya (yang mendengar) hendaklah mengucapkan, ‘Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).’ Jika saudaranya berkata ‘Yarhamukallah,’ maka hendaknya dia berkata, ‘Yahdikumullah wa yushlihu balakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Al-Bukhari).


6. Beribadah dirumah

Agama Islam sama sekali hadir bukan untuk mempersulit umatnya. Islam hadir untuk mempermudah umatnya. Segala aturan dan larangan Allah diturunkan untuk kebaikan hambanya. Termasuk dalam hal Ibadah seperti sholat saat wabah Corona. Dalam sebuah hadist sholat boleh dilaksanakan dirumah demi untuk menghindari resiko yang lebih besar, sebagaimana diceritakan dalam hadist lafal adzan diubah supaya muslim sholat di rumah demi mencegah bahaya. 

"Hari itu sedang hujan dan berlumpur saat Ibnu Abbas hendak sholat bersama kami. Ketika muadzin yang mengumandangkan adzan berkata Hayyaa 'alas Salaah, Ibnu Abbas mengatakan untuk mengubahnya menjadi As Salaatu fir Rihaal (sholatlah di rumah masing-masing). Orang-orang saling melihat dengan wajah kaget. Ibny berkata, hal ini pernah dilakukan di masa orang yang lebih baik dibanding dirinya (merujuk pada Rasulullah SAW) dan ini terbukti." (HR Bukhari).

"Di suatu malam yang dingin, Ibnu 'Umar mengumandangkan adzan ketika hendak sholat di Dajnan dan mengatakan Salu fi rihaalikum (sholatlah di rumahmu). Dia mengatakan, Rasulullah SAW pernah menyuruh muadzin mengumandangkan Salu fi rihaalikum (sholatlah di rumahmu) saat adzan di malam yang hujan atau sangat dingin dalam perjalanan." (HR Bukhari)

Allahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel